Arsip Tag: Stres

I SUE YOU

Assalamualaikum wr wb

Wah,sudah lama juga ya tidak menengok warung ini.Ya,sebenarnya saya sudah putus harapan,dikarenakan di akhir tahun kemarin kontrak domain dot com disini harusnya sudah berakhir.Tapi entahlah,kenapa masih bisa eksis bahkan sampai Februari tahun ini.Entahlah,apa pihak wordpress terlalu baik hingga menambah jam tayang?Atau there is someone who give his little magic?thank you binti speak end (matur nuwun,red) lah…
**hahaha,ternyata sudah ga dot kom lagi saudara,pake mencoba setres kembali…duh,harus ngedit deh :mrgreen:

Oleh karenanya,because of that,dalam rangka memaksimalkan segala yang ada,kita lanjut saja ya dunia permumet-ndhasedotkomnya..Kebetulan nemu tema yang anti mainsetrum..

I SUE YOU.
Aku tuntut kau.

Kata-kata ini saya temukan dulu pada sebuah artikel di majalah Intisari yang bentuknya imut.Dulu ada di tempatnya bulek,cuma satu-satunya itu.Dilihat dari gambar iklannya,majalah tersebut rilis kira-kira tahun 80-an akhir lah.Dimana masih ada artikel review film barat yang tayang di TVRI sebagai the only and the One channel televis di negeri ini pada masa itu.

Secara garis besar,intinya artikel itu adalah kemunculan sebuah fenomena baru di negeri barat.Dimana banyak orang yang banyak melakukan sejumlah tuntutan ke pengadilan kepada orang yang dirasa bermasalah sebagai bentuk perlawanan.Jadi,sedikit-sedikit menuntut,sedikit-sedikit tuntut.

Menarik bagi saya,karena hal itu terjadi di era 80-an.Tren “ku tuntut kau” itu saya rasakan mulai ramai di Indonesia di sekitar akhir 90-an atau awal 2000-an lewat jalur acara gosip di tv swasta,dengan pelaku kebanyakan artis-artis dunia layar kaca.Yaaah,ketahuan deh kalau anak nineties…dengan kekuatan bulan,akan menghukummu!!Ada jarak lebih dari 10 tahunlah…dengan media berupa televisi..Dan,di mana masa media digital dunia maya internet plus Mobile Phone seluler,fenomena tuntut-menuntut sudah merambah ke konsumsi publik secara umum.Dilihat dari maraknya Facebook,twitter,blog dan lain sebangsanya,yah kira-kira berjarak 10 tahunan juga.

Dari awalnya di negeri asalnya sampai kesini berjarak 20 tahunan….

Terus maksudnya tulisan ini apa ya?

Ya ga tau juga…wong nulisnya juga semaunya wek…Begini.Di kepala saya,ternyata kita-kita sini itu ternyata sangat welcome sekali kepada budaya-budaya aneh yang munculnya di negeri seberang.Sebagai misal,budaya menuntut itu.Dulu di pelajaran PMP dan PPKn yang nilai pelajarannya selalu bagus sering dibilangin,kalau ada masalah itu diselesaikan dengan musyawarah mufakat,lebih baik mengalah,tenggang rasa,tepo Seliro sebagai warisan budaya negeri yang (katanya) luhur dan mulia.Namun pada realitasnya,kebanyakan masalah harus selesai di meja persidangan,itu bahkan sampai di tingkat paling tinggi dengan mengorbankan waktu,biaya dan tenaga yang tak sedikit..sedang masalah yang dihadapi di persidangan,kalau boleh saya bilang bukanlah masalah yang,hmmmm,yang penting-penting amat deh..bahkan terkesan sepele sih..

Nah,sekarang ending tulisan ini kemana ya?

Dari perbandingan tersebut,kira-kira lebih baik mana,budaya sendiri atau budaya adaptasi dari luar?

Jika budaya sendiri,kenapa kok sekarang jarang dipakai?apakah kurang tegas dalam melindungi hak-hak pribadi?Atau jika budaya luar yang lebih banyak dipakai,apakah hal itu menunjukkan sebuah kebaikan?dimana seringnya terlihat seperti membesar-besarkan masalah yang sepele,bukan semaradona atau sezlatanibrahimovic..

Tentunya banyak hal yang perlu diselidiki lagi..Dan satu hal lagi,peran media memang luar biasa ya.

Yah,namanya juga budaya,seiring waktu berubah sesuai dengan perkembangan pemikiran dan lingkungan.Karena interaksi dengan berbagai macam jenis manusia yang tentu kepala juga lebih banyak isinya.

Iya to..iya to…

Malah mumet-ndhase dewe kie…

“mugiĀ² Gusti Alloh Ingkang Maha Kuwaos paring berkah pangastuti dumateng panjenengan sami sakaluarga”

Dikirim dengan sepenuh cinta lewat Lumpia 520

Wassalamualaikum wr wb.